Jumat, 18 September 2015

6 Program Prioritas Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2016

Jakarta, Kemendikbud --- Merujuk pada Nawacita Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019, dan rencana kerja pemerintah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) rancang enam program prioritas pendidikan dan kebudayaan tahun 2016.

“Program prioritas pertama yang menjadi perhatian adalah penguatan pelaku pendidikan dan kebudayaan,” hal tersebut disampaikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan dalam Rapat Kerja (Raker) bersama Komisi X DPR RI, di Gedung MPR/DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (14/09/2015).

Penguatan pelaku pendidikan, kata Mendikbud, dengan melakukan pemberdayaan melalui peningkatan kompetensi, kinerja, dan apresiasi terhadap pendidik dan tenaga kependidikan. Selanjutnya pemberdayaan dilakukan dengan melakukan kemitraan dan penguatan peran orang tua, dan pelibatan masyarakat dalam aktivitas pendidikan dan kebudayaan.

“Pelibatan publik ini sesuai dengan pesan pendiri bangsa kita adalah gotong royong. Pelibatan publik ini kita kerjakan sebagai ikhtiar gotong royong dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat. Ini sudah mulai dilakukan di beberapa aktivitas di Kemendikbud, dan alhamdullilah mendapatkan respon yang positif di masyarakat,” tutur Mendikbud

Program prioritas kedua adalah meningkatkan akses dan kualitas pendidikan. Pada program prioritas ini hal yang akan dilakukan sebagai wujud terhadap peningkatan akses adalah peningkatan sarana dan prasarana pendidikan. Dengan tersedianya akses tersebut, kata Mendikbud, kualitas pendidikan pun harus ditingkatkan dengan penyempurnaan kurikulum dan sistem penilaian pendidikan. “Program yang sudah diluncurkan untuk mendukung anak-anak kita yang kurang mampu sebagai wujud meningkatkan akses pendidikan adalah pelaksanaan Program Indonesia Pintar. Ini juga menjadi fokus dalam program pendidikan tahun 2016,” jelas Mendikbud.

Program prioritas pendidikan dan kebudayaan ketiga adalah meningkatkan akses dan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan. Program ini akan diwujudkan dengan penyediaan guru garis depan, peningkatan kompetensi, peningkatan kinerja, pemberian tunjangan atau insentif bagi guru non-PNS, dan peningkatan kualifikasi pendidikan.

Selanjutnya, pada program prioritas pendidikan dan kebudayaan keempat, Kemendikbud akan melakukan peningkatan dan penguatan pelestarian dan diplomasi budaya. Wujud menjalankan program prioritas tersebut, Mendikbud mengatakan, hal yang akan dilakukan adalah melakukan perlindungan dengan penetapan dan revitalisasi warisan budaya, pengembangan budaya dengan melakukan penelitian, pelatihan, pembangunan, dan modernisasi.

“Setelah hal tersebut dapat diwujudkan, program yang dapat dijalankan selanjutnya adalah pemanfaatan dengan melakukan promosi budaya baik di dalam negeri maupun di luar negeri,” ujar Mendikbud.

Program prioritas kelima, Mendikbud menuturkan, adalah peningkatan dan penguatan pengembangan, pembinaan dan perlindungan bahasa melalui pengembangan kosakata, penyebarluasan Bahasa Indonesia di luar negeri. “Dukungan program prioritas tersebut adalah literasi sekolah dan pembentukan laboratorium Kebinekaan bahasa dalam rangka penumbuhan budi pekerti,” jelas Mendikbud.

“Program prioritas keenam dan menjadi sasaran utama Kemendikbud dalam melakukan gerakan pendidikan dan kebudayaan adalah penguatan tata kelola dan pelibatan publik,” pungkas Mendikbud. 

(Sumber: Kemendikbud RI, Penulis: Seno Hartono)

Gaji Tidak Manusiawi, 20 Ribu Guru Honorer Lakukan Aksi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sekitar 20 ribu guru honorer yang tergabung dalam Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dan didukung oleH Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) akan melakukan aksi hari ini dan besok. Aksi akan dilakukan di Istana Presiden, DPR, Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

" Hari ini aksi dilakukan di DPR RI jam 9.30, setelah itu ke Men PAN-RB dan Mendikbud. Besok baru ke istana," kata Presiden KSPI Said Iqbal, Selasa (15/9).

Ketua Umum PGRI Sulistyo mengatakan aksi ini didasari status hubungan kerja para guru selama puluhan tahun layaknya outsourcing dengan gaji yang tidak manusiawi Rp 150 hingga Rp 300 ribu per bulan. Apalagi mereka kini berada di tengah ancaman pemutusan hubungan kerja karena adanya undang-undang Aparatur Sipil Negara (ASN).

Ada sepuluh tuntutan guru honorer dalam aksi kali ini, diantara angkat sebagai PNS (khususnya guru dan tenaga honorer K2), bayar gaji minimal dengan upah minimum, hentikan rencana pemerintah yang akan memPHK 439.956 orang guru honor dan tenaga honorer akibat diberlakukannya UU ASN. Selain itu mereka juga menuntut agar dimasukan sebagai peserta PBI BPJS Kesehatan, beri kesempatan guru honor ikut uji sertifikasi.

KSPI pun ikut meminta ganti direktur jenderal guru yang tidak memahami persoalan guru. Baik PGRI dan KSPI mendesak Mendikbud jangan hanya pencitraan saja, tapi ada kerja nyata untuk mengangkat guru honor menjadi PNS dan berupah UMR, dan mencabut Permen PANRB No 16 Tahun 2009.

Reporter : Qommarria Rostanti   
Redaktur : Dwi Murdaningsih

Kamis, 17 September 2015

Uji Kompetensi Guru 2015 untuk Pemetaan, Bukan Pemotongan Tunjangan Profesi

Jakarta, Kemendikbud --- Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud, Sumarna Surapranata mengatakan, uji kompetensi guru (UKG) pada tahun 2015 dilakukan untuk melakukan pemetaan dalam rangka memperoleh baseline tentang kompetensi guru. Hal tersebut dikatakannya untuk menjawab salah satu tuntutan guru honorer yang menolak dilaksanakannya UKG jika hasilnya digunakan untuk melakukan pemotongan tunjangan profesi.

“Uji kompetensi guru ini untuk pemetaan, agar diperoleh baseline kompetensi guru,” ujarnya saat audiensi dengan guru honorer di kantor Kemenpan-RB, Jakarta, (15/9/2015).

Pria yang akrab dipanggil Pranata itu menambahkan, pada tanggal 9 sampai 27 November tahun 2015, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bekerja sama dengan dinas pendidikan dan sekolah akan melakukan uji kompetensi guru kepada 3.015.315 orang, termasuk guru honorer.

Ia mengatakan, selama ini Kemendikbud hanya memiliki potret UKG untuk 1,6 juta guru, yaitu guru yang sudah memiliki sertifikat dan yang akan disertifikasi. Potret tersebut diperoleh setelah guru-guru melalui uji kompetensi awal (UKA) dan uji kompetensi guru (UKG).

Pada uji kompetensi guru November nanti, tutur Pranata, baseline tentang kompetensi guru yang diperoleh akan digunakan sebagai bahan untuk melakukan peningkatan kompetensi secara berkelanjutan (diklat).

Terkait tuntutan penghapusan Kepmen tentang Petunjuk Teknis Tunjangan Profesi Guru (TPG), para guru honorer menilai Kepmen tersebut membuat guru swasta atau non-PNS tidak mendapatkan tunjangan profesi. Padahal guru swasta atau non-PNS di sekolah negeri yang sudah mendapatkan sertifikat pendidik sesuai dengan peruntukannya akan mendapatkan tunjangan profesi sepanjang yang bersangkutan memenuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku.

“Tahun 2015 dialokasikan jumlah 282.895 guru swasta atau guru non-PNS dengan total anggaran Rp6.993 triliun,” katanya. ()
 
(Sumber: Kemendikbud RI, Penulis: Desliana Maulipaksi)

Lembaga Indonesia Bermutu Akan Fokus Pendidikan dan Peningkatan SDM

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Isu kualitas pendidikan dan sumber daya manusia sejauh ini masih jadi masalah yang hangat di Indonesia. Atas dasar inilah sebuah gerakan bernama Indonesia Bermutu (IB) lahir dan tercipta.

"Kami ini lembaga nonpemerintah yang berisi para praktisi dan akademisi yang concern di bidang pendidikan. Upaya kami di gerakan IB bertujuan agar ke depan wajah SDM dan pendidikan kita bisa jauh lebih baik dibandingkan sekarang," ujar ketua IB Awalludin Tjalla ketika berkunjung ke Harian Republika, Rabu (16/9).

Dia menyatakan pondasi utama dari sebuah bangsa adalah perbaikan kualitas SDM dan pendidikan. Sebab dari situ barulah bisa terjadi perubahan fundamental bagi suatu bangsa.

Sejauh ini, kata dia, gerakan yang didirikan pada 17 Agustus 2015 sudah merancang beberapa program yang akan menjadi fokusnya. Yakni penelitian, penerbitan dan juga seminar diskusi.

"Pilot Project kita saat ini adalah Provinsi Maluku. Ini akan dilakukan tahun depan," ujar dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ini menjelaskan. Untuk daerah lainnya, masih masuk dalam proses perencanaan.

Reporter : c05
Redaktur : Damanhuri Zuhri